Oleh: Chairul Fahmi
CHARLIE HEBDO, majalah mingguan
yang berbasis di Prancis menjadi “top brand” diawal tahun 2015. Dua bersaudara Said
Koauchi dan Cherif menyerang kantor Koran tersebut, dan menyebabkan 12 orang
tewas, salah satunya polisi wanita yang beragama Islam. Penembakan terhadap majalah
Setir ini karena diduga akibat ulah koran tersebut, yang menerbitkan karton
yang “diasumsikan”, sebagai nabi Muhammad saw. Charlie Hebdo merupakan majalah
provokatif yang suka menghina agama Islam, termasuk juga agama lainnya.
Penyerangan ini telah menyebabkan jutaan
rakyat Prancis “mengutuk” pelaku, dan media massa menyalahkan gerakan Islam
radikal. Umat Islam di Prancis dan Eropa pada umumnya menjadi “terancam” akan dikriminalisasi,
dan diintimidasi akibat generalisasi kebencian terhadap pembunuhan tersebut.
Disisi lain, penyerangan terhadap
toko serba guna Yahudi, menyebabkan pihak keamanan memberikan perlindungan
ekstra kepada umat Yahudi di Prancis. Yahudi bahkan mendapatkan pelayanan
“istimewa” dari negara-negara Eropa. Menteri perumaham Israel Uri Ariel
menyatakan akan mengusur penduduk Tepi Barat Palestina, dan membangun perumahan
bagi Yahudi Prancis yang ingin pulang ke tanah yang dijanjikan.
Ada hal yang menarik menurut saya
untuk ditelisik dalam kasus ini yaitu keterkaitan serangan terhadap majalah
setir dengan serangan ke toko Yahudi. Apakah kasus ini murni serangan kebencian
terhadap majalah penghina Nabi, atau ada konspirasi zionis, disaat Israel akan
digugat ke mahkamah kriminal internasional dalam kasus genoside di Palestina
serta serangan ke Gaza? Atau Zionis Yahudi mendapat profit dari serangan dua
bersaudara, sementara Islam menjadi agama yang terus dijadikan sebagai “agama”
teroris?
Siapa Charlie Hebdo?
Charlie Hebdo merupakan majalah
mingguan yang mempunyai misi provokasi anti terhadap agama dan anti –rasis.
Majalah aliran kiri yang mempromosi pluralism ini melakukan berbagai provokasi
dalam berbentuk; kartun, laporan, polemik dan jokes. Diotaki oleh editor
Stéphane Charbonnie, Hebdo telah membuat berbagai propaganda yang menghina
simbol-simbol agama, baik agama Islam, Kristen, dll. Majalah yang pernah
dilarang bereder tahun 1970 setelah mengejek kematian Presiden Prancis Charles
de Gaulle, kembali dihidupkan pada tahun 1991, dan pada tahun 2006 majalah ini
mempublikasikan karton “Muhammad” yang bersorban bom, dicetak ulang oleh Jyllands-Posten, Denmark.
Berbagai edisi diterbitkan oleh majalah Satir ini terus menghina umat Islam,
sampai pada 7 Januari 2015, dua pemuda Prancis keturunan Aljazair akhirnya
menembak mati para penghasut Islam tersebut. Beberapa yang ditembak mati antara
lain chief editor Charb, kartunis dan contributor lainnya seperti Cabu, Honere,
Tignour, Wolinski, dll.
Kasus ini memberikan efek positif
terhadap profit majalah anti-agama tersebut, dimana oplah penjualan meningkat
tajam dari biasanya dicetak ribuan, menjadi jutaan. Setidaknya, lebih dari 5
juga eksamplar copy majalah dicetak kembali dengan sampul karton yang
seolah-olah Muhammad. Begitupun, simpati berbagai negara barat terhadap majalah
ini menjadi semakin masif, dimana setiap orang menggunakan kostum dan kampaye
berbunyai “Je Suis Charlie” (Saya Charlie). Presiden Prancis, German, US, UK, dan
40 kepala negara lainnya menyatakan membela majalah yang pernah dilarang ini
dengan alasan kebebasan berbicara (free of speech/ freedom of expression). Sebuah
alasan yang sering diingkari sendiri oleh negara di Eropa, disaat orang berkata
bahwa “ holocaust ” itu tidak ada, maka siapa yang mengingkari dianggap
anti-Semitic, dan mereka di hukum.
Skenario Zionis
Kasus Charlie Hebdo bukanlah
terjadi secara “mendiri”, tanpa ada kaitan dengan kasus lainnya. Kasus Charlie
Hebdo merupakan episode lanjutan setelah kasus 9/11 WTO, dimana serangan yang
dituduhkan dilakukan oleh Al-Qaeda telah menewaskan ribuan orang, dan tanpa
seorangpun Yahudi tewas dalam insiden tersebut. 9/11 menjadi alasan menyerang
Iraq yang menewaskan lebih kurang dua juta muslim di Iraq, dan jutaan lainnya
menjadi terluka, lalu mengungsi ke berbagai negara. Lalu zionis menghacurkan
Syria/Suriah, dan beberapa negara timur tengah lainnya, melalui gerakan “mind
control” kelompok-kelompok radikal dan membawa bendera Islam.
Philippe Schmitd, seorang pengacara
Yahudi dan wakil presiden liga internasioanl anti-rasisme dan anti semistic
mengatakan bahwa serangan terhadap Charlie Hebdo merupakan “moment yang indah”
untuk membangun kesatuan gerakan Yahudi se-dunia.
Salah satu gerakan Jews (Yahudi)
global yaitu menguasai pemikiran (mind global) dan mendominasi seluruh dunia. Beberapa
dominasi zionis global antara lain; World Trade Center, Port Authority of New
York and New Jersey, Marvin Prescott Bush, Netanyahu dan Mossad, Micheal
Chertoff, CIA, Bank for International Settlement, World Bank, IMF, Federal
Reserve of US, The Anti-Defamation League, Adam Yahiye Gadahn, The Heritage
Foundation, Republican Jewish Coalition, AIPAC, JINSA, WJC, Nancy Pelosi,
Viacom, News Corporation, The Walt Disney Company, NBC Universal, Bloomberg
News, Wikipedia, Google dan Myspace, Facebook, Microsoft, Apple, Boing, The
Carlyle Group, Israel Weapon Industry, Starbuck, Levis Jeans, Orthodox Union,
Fox dan berbagai multi national company yang menguasai bidang industry dan
ekonomi di seluruh dunia.
Gerakan global zionis bagai darah yang mengalir dalam politik, keamanan
dan ekonomi di dunia. Beberapa analis bahkkan menyimpulkan gerakan ISIS ditimur
tengah merupakan bagian dari gerakan zionis dengan akronim #JSIS (Jewish State
of Israel and Levant). Bahkan seorang Rabi Yahudi Rabbi Hirsh menyatakan bahwa:
“Seandainya ISIS memperlihatkan pola penyikasaan dan pembunuhan terhadap warga
sipil tidak berdosa, anak-anak dan wanita tak berdosa, mereka mempunyai
kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh Israel. Ketika Ariel Sharon menyembelih
ribuan warga sipil Palestina di Sabra dan Shatilla”.
Disisi lain, gerakan ISIS juga tidak menunjukkan klaim melawan Israel dan
Zionis, disaat Gaza di serang Israel secara membabi buta, ISIS memerangi umat
Islam lainnya. ISIS juga mendeklari negara Islam yang sama pernah dideklarasi
oleh pendiri Zionis Theodor Herzl, dimana Harzl menyatakan bahwa JSIS mencakup
Lebanon, Jordan, Syria, Mesir, Irak dan Arab Saudi, yang sering juga disebut
dengan Isreal Raya. Rabbi Fischmann pada tahun 1947 di berkata “The Promised
Land extends from the River of Egypt up to the Euphrates; it includes parts of
Syria and Lebanon”/tanah yang dijanjikan dimulai dari sungai Mesir sampai ke
sungai Eufrat di Iraq, serta mencakup Syria dan Lebanon” (Shakdam, 2014).
Carherine Shakdam dalam artikelnya “Zionism and ISIS: Opposing Forces or
Two Sides of the Same Coin?” menyatakan bahwa berbagai fenomena menunjukkan
bahwa gerakan ISIS dan Zionis mempunyai kesamaan ideology dan pola dalam
melakukan pembantaian. Ahmed menulis dalam artikelnya “How The West Created
ISIS” menyatakan bahwa “Sejak 2003, kekuatan Anglo America secara rahasia dan
juga terbuka telah mengkoordinasi untuk mendukung gerakan teroris yang berbasis
Islam baik secara langsung maupun tidak, yang terkait dengan al-Qaida maupun
yang berkaitan baik di Timur Tengah, Afrika dan Asia”.
Disisi lain, scenario Zionis seperti disebut oleh Isreal Shahak dalam
pengantar “Greater Isreal: The Zionist Plan for the Middle East”, menyatakan
bahwa salah satu misi Isreal Raya yaitu memastikan gerakan pengembalian Yahudi
ke tanah yang dijanjikan, termasuk mengusir setiap rakyat Palestina yang masih
berada di West Bank dan Gaza.
Sehingga Menteri Pertahanan Iran bahkan mengklaim ISIS dan JSIS merupakan
satu mata uang dengan dua sisi yang berbeda, dimana salah satu bukti, ISIS
tidak mengerahkan mesin perangnya ke Isreal, melainkan terus bergerak ke Iran,
Turki dan juga Arab Saudi, sebuah misis konspirasi Isreal untuk menghancurkan
negara-negara Arab yang kuat menentang hegemoni Isreal di Timur Tengah. ISIS
diakronimkan juga dengan “Isreal Secret Intelligent Service”.
Penembakan yang terjadi di Charlie Hebdo saja tidak memberikan
“keuntungan” bari Isreal, tanpa terejadi penembakan di toko milik Yahudi. Isu
yang berkembang kemudian tidak lagi terror terhadap penghina nabi saw,
melainkan terror terhadap Yahudi di Eropa. Rencana membawa Isreal ke pengadilan
kriminal internasional, karena melakukan perampasan tanah Palestina secara
illegal, pembunuhan terhadap warga sipil tak berdosa di Gaza menjadi hilang
dari perpolitikan global. Negara-negara Eropa, Prancis, Jerman, dan beberapa
lainnya yang rencana mengakui secara dejure kemerdekaan Palestina, kembali
“bersimpati” kepada Yahudi, Israel dan gerakan anti-semitic. Sementara upaya
“islamisasi” Eropa oleh gerakan Islam sedunia menjadi terancam. Muslim kembali
dicurigai dalam setiap aktifitasnya. Charlie Hebdo, dan penyerangan toko Yahudi
di Paris menjadi episode lanjutan gerakan zionis global terhadap Islam yang
mulai bersemi di benua biru. Tahun 2016, akan terjadi peristiwa yang sama, tapi
tak serupa. Wallahu’alam.

0 comments:
Post a Comment