Oleh: Chairul Fahmi
Bangsa Republik
Indonesia baru saja memilih pemimpinnya pada 9 Juli 2014 lalu. Hanya dua putra
bangsa yang bertarung dalam pesta demokrasi, yaitu Letjen (purn) Prabowo
Subianto dan Ir. Joko Widodo. Keduanya merupakan putra terbaik bangsa, yang
mempunyai keinginan yang sama, yaitu memajukan republik dan memastikan
cita-cita konstitusi tegak, baik untuk kesejahteraan bangsa, maupun untuk
mewujudkan perdamaian dunia.
Terlepas dari
kekurangan yang dimiliki oleh keduanya, namun penetapan salah satu diantaranya
sebagai presiden NKRI untuk periode 2014-2019 menumbuhkan harapan baru
dipundaknya. Harapan untuk menjadikan bangsa Indonesia raya agar lebih
berdaulat; baik secara politik, sosial,budaya, ekonomi dan sumber daya manusia
(SDM). Disamping itu juga presiden baru diharapkan dapat menjadikan bangsa
ini mempunyai peran yang lebih strategis
baik ditingkat regional maupun internasional, khususnya menjadi negara yang membebaskan
segala bentuk penjajahan di dunia, termasuk membebaskan Palestina dari zionis
Israel.
Pertanyaannya,
apakah presiden baru republik ini mampu mewujudkan cita-cita proklamasi dan
konstitusi Indonesia, atau hanya menghabiskan periode kepemimpinannya dalam
berbagai persoalan administratif dan birokratif, tanpa mampu merubah hegemoni kapitalistik
dan penjajahan global, dan ketidakadilan secara terstruktur dalam segala
dimensi kehidupan.
Untuk menjawab hal
ini, kita perlu mengingatkan agar sang presiden melihat dan memahami kembali
tujuan dan substansi dari pembukaan konstitusi (UUD 1945) republik Indonesia.
Secara umum cita-cita republik ini jelas menyatakan bahwa ada dua dimensi
pembangunan yang harus diwujudkan yaitu pembangunan jiwa dan juga raga (fisik).
Dimensi jiwa ini tercantum dengan jelas dari kalimat “atas berkat rahmat Allah”,
Indonesia meraih kemerdekaannya”. Kalimat ini juga diulangi dalam lagu
kebangsaannya “bangun jiwanya, bangunlah badannya..”.
Kalimat ini
menunjukkan bahwa dimensi pertama yang perlu dibangun adalah dimensi jiwa, dan
ini akan terbentuk ketika republik ini tetap menyakini bahwa kedalaulatan dan
kemajuan bangsa mempunyai relasi dengan nilai ketuhanan (baca: ketuhanan yang
maha esa), suatu falsafah Negara yang menyakini bahwa sifat-sifat Tuhan menjadi
refleksi dari falsafah Negara Indonesia.
Presiden dan Jiwa yang Fitri
Menjadi bangsa
yang besar sangat tergantung dari pemimpin yang besar juga. Menjadi pemimpin
(presiden) yang besar, akan terlihat tidak saja dari fisiknya yang kuat, akan
tetapi juga dari jiwa sejati dari sang pemimpin itu sendiri. Jiwa sejati dalam
falsafah jawa sering disebut dengan “pra
linangkung muwah among tani, ingkang andhap asor, ingesoran sasolah bawane”
(orang yang besar itu, sekalipun seorang petani harus mempunyai sifat rendah
hati, dan unggul dalam segala tingkah laku yang baik”.
Dalam Islam,
presiden yang mempunyai jiwa yang fitri (sejati) itu adalah presiden yang
mempunyai dan mementingkan keseimbangan (ummatan
wasathan), yang terpatri dalam kebijakannya untuk memberikan kedamaian dan
kesalamatan (jamak:Islam) bagi seluruh umat manusia, di Indonesia dan dunia.
Keselamatan dan kedamaian hanya dapat diwujudkan oleh hati/jiwa yang damai, dan
jika yang damai hanya dimiliki oleh orang-orang (presiden) yang membersihkan
diri dari segala kedhaliman dan kekotoran prilaku politiknya.
Beberapa tokoh
besar dunia yang membawa perubahan besar bagi bangsanya adalah
pemimpin-peminpin yang mempunyai jiwa spritualitas dan patrionitas yang tinggi.
Rasulullah saw, adalah contoh pemimpin (sang presiden) umat manusia yang
mempunyai jiwa sejati yang sangat mulia, dan tiada tandingannya sampai
kapanpun.
Beberapa tokoh
lainnya yang menjadi contoh pemimpin besar dalam peradaban dunia modern seperti
Mahatma Gandhi, yaitu tokoh pembebasan dari India yang melawan penjajahan
Inggris dan membebaskan segala bentuk penjajahan di negerinya, Kasturba Gandhi
pernah berkata, “Tak mungkinlah Gandhi bisa melakukan
semua hal ini (perjuangan dalam penegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan melawan
penjajah Inggris) jika tidak menjalankannya untuk menuju Tuhan”.
Hal
yang sama juga pernah dikatakan oleh Ayatullah Khomeini ketika melawan rezim
Shah Reza Vahlevi dan berjuang dalam revoluasi Islam Iran, ia mengatakan bahwa
perjuangan fisik harus diawali dengan pembersihan jiwa untuk melahirkan
cita-cita luhur menuju keridhaan Tuhan”.
Proses pembersihan
jiwa sang pemimpin merupakan suatu proses interaksi sang pemimpin dengan Tuhan
alam semesta untuk mendapatkan kekuatan dalam menegakkan kebenaran dan
keadilan. Allamah Taqi Ja'fari, filsuf Muslim Iran
menjelaskan bahwa seorang pemimpin atau juga manusia secara umum harus memiliki
empat relasi di dalam hidupnya. Pertama adalah relasi dengan Tuhan, kedua
dengan dirinya sendiri, ketiga dengan manusia yang lain dan keempat adalah
dengan alam. Pandangan holistik-integralistik yang ditawarkan oleh Allamah Taqi
Ja'fari ini menggambarkan prinsip universal hubungan seorang presiden dan manusia pada umum yang harus ada untuk mewujudkan
pribadi-pribadi tangguh dalam menegakkan kebenaran, keadilan dan perdamaian.
Kedua,
presiden RI masa depan harus mampu mewujudkan cita-cita secara lahiriah seperti
dituangkan dalam pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Presiden
RI itu bukan yang hanya terdiam melihat anak negeri-nya menjadi budak di Negara
orang, yang hanya bisa berbasa-basi menyaksikan anak negeri didhalimi, disiksa,
dieksploitasi, dimanipulasi dan mati tanpa keadilan. Negara harus melindungi
segenap WNI baik dalam negeri maupun luar negeri. Presiden sejati itu bukanlah
presiden yang dianggap patriot karena sukses menggusur pedagang kaki lima saja,
tapi juga harus mampu menghukum mafia-mafia kartel ekonomi Indonesia, yang
memonopoli kebutuhan ekonomi republik ini. Presiden berjiwa patriot dan sejati
itu bukanlah presiden yang tunduk di bawah kontrol politik dan ekonomi kaum
kapitalis, seperti IMF, The World Bank, ICG, Multi-National Company (MNC),
dll., tapi presiden yang mulia itu adalah presiden yang mampu memuliakan bangsa
ini di depan mata bangsa lain.
Presiden
yang fitri (sejati) itu adalah presiden yang melindungi segenap dan menjaga darah
anak bangsanya tidak ditumpahkan. Bukan sebaliknya, presiden yang melindungi
para penjahat kemanusian, yang menumpahkan darah anak bangsa, dari Aceh sampai
papua.
Ketiga,
sang presiden yang mempunyai jiwa fitri (sejati) itu adalah presiden yang
memajukan kesejahteraan umum serta mencerdaskan bangsa. Pesan ini menuntut
pemimpin Indonesia untuk membangun sistem ekonomi yang mensejahterakan rakyat
banyak dan merata seluruh Indonesia. Pemimpin yang tidak hanya melindungi
kepentingan pemilik modal, melainkan juga harus melindungi kepentingan
rakyatnya, termasuk tidak menjadikan bangsa ini sebagai “budak” dinegerinya
sendiri.
Salah
satu faktor utama sebuah Negara menjadi kuat dan disegani oleh Negara lain
adalah Negara yang sejahtera. Indikator Negara sejahtera adalah pendapatan
Negara yang cukup, kemampuan daya beli masyarakat terhadap produk kebutuhan,
akses terhadap pendidikan murah dan berkualitas serta pelayanan kesehatan yang
optimal. Salah satu upaya meningkatkan pendapatan Negara dengan menaikkan pajak
bagi perusahaan besar yang ada di Indonesia, dan membangun kemandirian
kebutuhan dalam negeri, termasuk peningkatan pelayanan publik yang lebih baik
serta berkualitas, seperti kebutuhan dasar listrik, dan air bersih.
Terakhir, seorang
presiden RI yang baru harus mampu secara nyata melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Amanah
konstitusi ini sangat relevan dengan peran yang harus diambil sesegera mungkin
oleh republik ini untuk menyelesaikan krisis Gaza dari serangan brutal bangsa
zionis Israel. Presiden republik sebelumnya tidak dapat berbuat banyak, tidak
berani melawan kebiadaban Israel, selain hanya mengirim surat kutukan dan hanya
terdiam menyaksikan anak-anak palestina di bantai setiap harinya.
Presiden Indonesia
masa depan adalah presiden yang berani melawan hegemoni Negara asing atas tanah
air, presiden yang berani melawan Negara tirani dan rezim yang menebar terror
dan pembantaian umat manusia, seperti Negara USA dan Israel. Dua Negara
bersaudara tersebut, tidak pernah berhenti setiap masa menebar peperangan
diseluruh dunia. Sang presiden harus menjadikan Negara republik ke cita-cita
awal proklamasi, yaitu menjadi Negara yang berdaulat. Soekarno bahkan pernah
berpesan “Jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti,
dicacimaki asing, karena itu yang benar. Pemimpin itu akan membelamu diatas
kepentingan asing itu, dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji
asing, karena ia akan memperdayaimu..”.
Kita
tunggu, apakah presiden Indonesia masa depan cukup mempunyai jiwa sejati, jiwa
patriotism yang mampu membangun Negara ini menjadi Negara besar yang disegani
teman dan ditakuti lawan, serta mampu berperan dalam mewujudkan perdamaian
dunia, khususnya menjadi Negara pertama di dunia yang mempunyai mampu memerdekakan
Negara paletina, pastinya tidak hanya sebatas retorika. Jadilah sang presiden
yang dikenang oleh bangsa dan dunia sebagai seorang yang membebaskan, karena
esensi idulfitri adalah membebaskan dari segala doa, segala kebiadaan, segala
kedhaliman dan segala kenistaan dunia. Wallahu’alam

0 comments:
Post a Comment